Hype "AI agent" bikin banyak perusahaan ingin agent di semua divisi. Dari pengalaman saya memetakan workflow, agent masuk akal hanya jika prosesnya multi-langkah, terintegrasi ke beberapa sistem, dan sudah distandardisasi.
Tanda proses siap agent
SOP tertulis, API atau export tersedia, exception handling jelas, dan ada human review di titik kritis (approval, data sensitif).
Tanda belum siap
Proses masih bergantung intuisi individu, data tidak konsisten, atau tim belum percaya automation sederhana. Di situ saya mulai dari automasi satu langkah atau dokumentasi workflow dulu.
Pendekatan saya
Pilot satu agent pada satu alur dengan batas scope ketat — bukan "agent untuk semua departemen". Evaluasi 4–8 minggu, lalu putuskan scale atau stop.
